PERAWATAN CATHETER DOUBLE LUMEN (CDL)
Akses vaskuler ada bermacam-macam seperti catheter double lumen
(CDL), arteriovenous fistula, dan arteriovenous graft. CDL
merupakan akses vaskuler sedangkan sedangkan arteriovenous fistula dan
arteriovenous graft merupakan akses permanen. Semua akses memiliki risiko
infeksi namun yang paling menyebabkan infeksi adalah CDL. Karena itu akan
dibahas lebih lanjut mengenai CDL.
Catheter Double
Lumen (CDL) adalah sebuah alat yang terbuat dari bahan polimer silikon yang
mempunyai dua cabang, selang merah (jalur arteri) untuk keluarnya darah dari
tubuh ke mesin dan selang biru (jalur vena) untuk masuknya darah dari mesin ke
tubuh. Penggunaan CDL pelayanan untuk pasien yang membutuhkan cuci darah
dalam keadaan darurat. CDL hanya bersifat sementara dan akan dilepas saat
pasien sudah tidak diwajibkan menjalani cuci darah, atau sudah memiliki akses
yang lebih permanen.
CDL berbentuk pipa/ selang/ kateter yang dimasukkan ke pembuluh darah vena di leher (vena jugularis interna), dada (vena subclavia), atau pangkal paha (vena femoralis). CDL biasanya hanya untuk hemodialisis sementara/ jangka pendek (tiga minggu sampai kurang dari dua bulan). Ada juga kateter yang dapat digunakan untuk jangka panjang (satu tahun), disebut Long term HD Catheter. Kateter jangka panjang digunakan dengan indikasi tertentu yaitu apabila tidak bisa dilakukan pembuatan akses permanen seperti arteriovenous fistula (AVF) atau arteriovenous graft (AVG).
Pemasangan akses vaskuler bisa menyebabkan berbagai komplikasi, salah
satunya adalah infeksi. Infeksi dapat menyebabkan kerusakan akses vaskuler,
peningkatan jumlah kuman dalam darah yang dapat berakibat fatal hingga
kematian. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi pada CDL adalah
turunnya kekebalan tubuh penderita, jumlah kuman penyebab infeksi, dan prosedur
tindakan hemodialisis itu sendiri. Menurut penelitian di Belanda dan Turki,
infeksi kuman dalam darah yang disebabkan karena pemasangan CDL sepuluh kali
lebih sering terjadi dibanding pada akses AVF atau AVG.
Infeksi CDL berhubungan dengan infeksi di sekitar lubang masuknya kateter dan
adanya kuman dalam darah. Kuman masuk ke dalam darah dapat disebabkan karena
adanya kontaminasi dari lubang kateter. Kontaminasi bisa disebabkan karena
higienitas yang kurang baik saat proses perawatan kateter atau adanya kontak
dengan cairan yang tidak steril (mandi, terkena air hujan, dan lain-lain). Penyebab
infeksi lainnya adalah adanya perpindahan kuman yang secara normal ada di
permukaan kulit masuk ke aliran darah melalui lubang kateter CDL. Proses
pemasangan CDL yang lama juga meningkatkan resiko terjadinya infeksi pada
pasien hemodialisis.
Ciri-ciri adanya
infeksi CDL adalah :
1.
Demam, Mual, Nyeri otot
2.
Sering menggigil, terutama saat menjalani hemodialisis.
3. Adanya tanda infeksi pada tempat keluarnya kateter seperti kemerahan,
nyeri, dan muncul nanah.
Infeksi CDL dapat berbahaya apabila sampai terjadi penyebaran infeksi ke seluruh tubuh (sepsis) dan terjadi penyumbatan pada kateter yang menyebabkan pembengkakan pada sisi lengan yang terpasang kateter.
Apabila ditemukan tanda- tanda adanya infeksi CDL pada pasien hemodialisa, hal
yang perlu dilakukan adalah segera ke layanan kesehatan untuk pemeriksaan lebih
lanjut dan melepas kateter apabila diperlukan, melakukan perawatan daerah infeksi,
dan minum antibiotik sesuai hasil pemeriksaan dan anjuran dokter.
Pencegahan terjadinya infeksi melalui lubang kateter yaitu dengan
menambahkan antibiotik pada pengisian cairan lubang kateter/ locking CDL.
Pemberian salep antibiotik pada sekitar lubang CDL juga merupakan pilihan untuk
mencegah terjadinya infeksi.
Cara Pemeliharaan
CDL
Cara yang di lakukan
untuk mencegah terjadinya infeksi CDL :
1.
Mandi seperti biasanya, namun balutan jangan sampai basah. Jika balutan
terlanjur basah, maka balutan perban perlu segera diganti.
2.
Selalu gunakan pakaian dan handuk yang bersih.
3.
Hati-hati saat berganti pakaian, jangan sampai kateter tertarik dan
lepas.
4.
Rajin mencuci tangan, dan hindari menyentuh kateter.
5.
Jangan tidur miring ke arah kateter.
6.
Kateter tidak boleh digunakan selain untuk akses hemodialisis.
7.
Dianjurkan pemakaian CDL tidak lebih dari 2 bulan, kecuali menggunakan
CDL jangka panjang.
8.
Jika ada darah merembes dari kateter, segera ke IGD untuk penanganan
lebih lanjut.
9.
Selalu konsultasikan dengan dokter terutama jika terdapat tanda infeksi,
supaya mendapat penanganan lebih lanjut misalnya pemberian antibiotik atau
pelepasan kateter.
REFRENSI
1. Pantelias K, Grapsa E. Vascular access for
hemodialysis, technical problems in patients on hemodialysis. Downloaded
from: http://www.intechopen.com/books/technical–
problems–in–patients–on– hemodialysis/vascular–access–for–hemodialysis.
Accessed on: May 1st 2021.
2. Wiradana A, Wibawa I, Budiarta I. Bloodstream
infection of double lumen catheter among hemodialysis patients. Journal of
Indonesian Society for Vascular and Endovascular Surgery. January 2021;Vol.
2: 1.
3. Al-Hchaim M, Ali B, Abdullah A. Double
lumen subclavian catheter complications among patients with end stage renal
disease on continuous hemodialysis. Indian Journal of Public Health
Research & Development. August 2019; Vol. 10: 8.
4. Ferreira V, Neto MM, Cardeal da Costa JA. Association
of Infections with the Use of a Temporary Double-Lumen Catheter for
Hemodialysis. Nephrol Nurs J. 2018 May-Jun;45(3):261-267.
PMID: 30304619.
5. Yap HY, Pang SC, Tan CS, Tan YL, Goh N, Achudan S,
Lee KG, Tan RY, Choong LH, Chong TT. Komplikasi terkait kateter dan
kelangsungan hidup di antara pasien insiden hemodialisis di Singapura. Akses
J Vasc. November 2018; 19 (6): 602-608. doi: 10.1177 /
1129729818765055. Epub 2018 27 Maret. PMID: 29582680.
6. Amira C, Bello B, Braimoh R. Sebuah studi
tentang hasil dan komplikasi yang terkait dengan kateter hemodialisis sementara
di unit dialisis Nigeria. Transplasi Ginjal Saudi
J. 2016; 27 (3): 569-575.
7. http://dialysiscare.co.id/index.php/id/infeksi-cdl




