Sabtu, 27 Mei 2023

PERAWATAN CATHETER DOUBLE LUMEN (CDL)

 




Akses vaskuler ada bermacam-macam seperti catheter double lumen (CDL), arteriovenous fistula, dan arteriovenous graft. CDL merupakan akses vaskuler sedangkan sedangkan arteriovenous fistula dan arteriovenous graft merupakan akses permanen. Semua akses memiliki risiko infeksi namun yang paling menyebabkan infeksi adalah CDL. Karena itu akan dibahas lebih lanjut mengenai CDL. 

Catheter Double Lumen (CDL) adalah sebuah alat yang terbuat dari bahan polimer silikon yang mempunyai dua cabang, selang merah (jalur arteri) untuk keluarnya darah dari tubuh ke mesin dan selang biru (jalur vena) untuk masuknya darah dari mesin ke tubuh. Penggunaan CDL pelayanan untuk pasien yang membutuhkan cuci darah dalam keadaan darurat. CDL hanya bersifat sementara dan akan dilepas saat pasien sudah tidak diwajibkan menjalani cuci darah, atau sudah memiliki akses yang lebih permanen. 

CDL berbentuk pipa/ selang/ kateter yang dimasukkan ke pembuluh darah vena di leher (vena jugularis interna), dada (vena subclavia), atau pangkal paha (vena femoralis). CDL biasanya hanya untuk hemodialisis sementara/ jangka pendek (tiga minggu sampai kurang dari dua bulan). Ada juga kateter yang dapat digunakan untuk jangka panjang (satu tahun), disebut Long term HD Catheter. Kateter jangka panjang digunakan dengan indikasi tertentu yaitu apabila tidak bisa dilakukan pembuatan akses permanen seperti arteriovenous fistula (AVF) atau arteriovenous graft (AVG). 

       Pemasangan akses vaskuler bisa menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah infeksi. Infeksi dapat menyebabkan kerusakan akses vaskuler, peningkatan jumlah kuman dalam darah yang dapat berakibat fatal hingga kematian. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi pada CDL adalah turunnya kekebalan tubuh penderita, jumlah kuman penyebab infeksi, dan prosedur tindakan hemodialisis itu sendiri. Menurut penelitian di Belanda dan Turki, infeksi kuman dalam darah yang disebabkan karena pemasangan CDL sepuluh kali lebih sering terjadi dibanding pada akses AVF atau AVG.

      Infeksi CDL berhubungan dengan infeksi di sekitar lubang masuknya kateter dan adanya kuman dalam darah. Kuman masuk ke dalam darah dapat disebabkan karena adanya kontaminasi dari lubang kateter. Kontaminasi bisa disebabkan karena higienitas yang kurang baik saat proses perawatan kateter atau adanya kontak dengan cairan yang tidak steril (mandi, terkena air hujan, dan lain-lain). Penyebab infeksi lainnya adalah adanya perpindahan kuman yang secara normal ada di permukaan kulit masuk ke aliran darah melalui lubang kateter CDL. Proses pemasangan CDL yang lama juga meningkatkan resiko terjadinya infeksi pada pasien hemodialisis.

Ciri-ciri adanya infeksi CDL adalah :  

1.      Demam, Mual, Nyeri otot

2.      Sering menggigil, terutama saat menjalani hemodialisis.

3.    Adanya tanda infeksi pada tempat keluarnya kateter seperti kemerahan, nyeri, dan muncul nanah. 

      Infeksi CDL dapat berbahaya apabila sampai terjadi penyebaran infeksi ke seluruh tubuh (sepsis) dan terjadi penyumbatan pada kateter yang menyebabkan pembengkakan pada sisi lengan yang terpasang kateter.

      Apabila ditemukan tanda- tanda adanya infeksi CDL pada pasien hemodialisa, hal yang perlu dilakukan adalah segera ke layanan kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut dan melepas kateter apabila diperlukan, melakukan perawatan daerah infeksi, dan minum antibiotik sesuai hasil pemeriksaan dan anjuran dokter.

     Pencegahan terjadinya infeksi melalui lubang kateter yaitu dengan menambahkan antibiotik pada pengisian cairan lubang kateter/ locking CDL. Pemberian salep antibiotik pada sekitar lubang CDL juga merupakan pilihan untuk mencegah terjadinya infeksi.

 

Cara Pemeliharaan CDL       

Cara yang di lakukan untuk mencegah terjadinya infeksi CDL : 

1.      Mandi seperti biasanya, namun balutan jangan sampai basah. Jika balutan terlanjur basah, maka balutan perban perlu segera diganti.

2.      Selalu gunakan pakaian dan handuk yang bersih.

3.      Hati-hati saat berganti pakaian, jangan sampai kateter tertarik dan lepas. 

4.      Rajin mencuci tangan, dan hindari menyentuh kateter.

5.      Jangan tidur miring ke arah kateter.

6.      Kateter tidak boleh digunakan selain untuk akses hemodialisis.

7.      Dianjurkan pemakaian CDL tidak lebih dari 2 bulan, kecuali menggunakan CDL jangka panjang.

8.      Jika ada darah merembes dari kateter, segera ke IGD untuk penanganan lebih lanjut.

9.      Selalu konsultasikan dengan dokter terutama jika terdapat tanda infeksi, supaya mendapat penanganan lebih lanjut misalnya pemberian antibiotik atau pelepasan kateter.


 REFRENSI

1. Pantelias K, Grapsa E. Vascular access for hemodialysis, technical problems in patients on hemodialysis. Downloaded from: http://www.intechopen.com/books/technical– problems–in–patients–on– hemodialysis/vascular–access–for–hemodialysis. Accessed on: May 1st 2021.

2. Wiradana A, Wibawa I, Budiarta I. Bloodstream infection of double lumen catheter among hemodialysis patients. Journal of Indonesian Society for Vascular and Endovascular Surgery. January 2021;Vol. 2: 1.

3.  Al-Hchaim M, Ali B, Abdullah A. Double lumen subclavian catheter complications among patients with end stage renal disease on continuous hemodialysis. Indian Journal of Public Health Research & Development. August 2019; Vol. 10: 8.

4. Ferreira V, Neto MM, Cardeal da Costa JA. Association of Infections with the Use of a Temporary Double-Lumen Catheter for Hemodialysis. Nephrol Nurs J. 2018 May-Jun;45(3):261-267. PMID: 30304619.

5. Yap HY, Pang SC, Tan CS, Tan YL, Goh N, Achudan S, Lee KG, Tan RY, Choong LH, Chong TT. Komplikasi terkait kateter dan kelangsungan hidup di antara pasien insiden hemodialisis di Singapura. Akses J Vasc. November 2018; 19 (6): 602-608. doi: 10.1177 / 1129729818765055. Epub 2018 27 Maret. PMID: 29582680.

6. Amira C, Bello B, Braimoh R. Sebuah studi tentang hasil dan komplikasi yang terkait dengan kateter hemodialisis sementara di unit dialisis Nigeria. Transplasi Ginjal Saudi J. 2016; 27 (3): 569-575.

7. http://dialysiscare.co.id/index.php/id/infeksi-cdl

 


Minggu, 21 Mei 2023

 



PERAWATAN AV SHUNT






Cara merawat AV Shunt setelah meninggalkan rumah sakit


  • Jaga agar lengan diposisikan setinggi jantung (bisa diganjal menggunakan bantal), dan siku tetap  lurus sehingga mengurangi pembengkakan dan mengurangi risiko pembekuan
  • Tidak dianjurkan angkat berat di atas 10 kilogram
  • Tetap berpakaian kering dan bersih selama 48 jam pertama. Setelah 48 jam post operasi dan dressing dilepas, pasien bisa mandi seperti biasa

 

Perawatan harian AV Shunt


  • Kurangi risiko infeksi dengan mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah menyentuh AV Shunt
  • Jaga kulit di sekitar AV Shunt bersih dengan segera mencucinya dengan sabun antibakteri, terutama sebelum dialisis. Bersihkan fistula dengan cara mencuci dan menepuknya dengan lembut
  • Setelah luka sayatan sembuh, perkuat lengan dengan latihan sesuai dengan instruksi dokter. Contoh : Latihan meremas bola karet
  • Periksa denyut nadi/desiran (getaran/thrill) di AV Shunt 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) dengan cara mendengarkan dan  Apabila ada perubahan suara dan perubahan aliran darah diatas AV Shunt harus segera dilaporkan ke dokter yang menangani
  • Gunakan akses AV Shunt hanya untuk dialisis
  • Pastikan tidak ada kemerahan atau bengkak di sekitar area AV Shunt
  • Hindari luka pada lengan dan jaga tetap aman
  • Pastikan nutrisi yang tepat dan bergizi agar kesehatan tetap optimal

Larangan :

  • Jangan biarkan AV Shunt digunakan untuk memulai jalur IV atau menarik darah dari lengan AV Shunt
  • Tidak melakukan tensi darah pada lengan dengan AV Shunt
  • Tidak menindih tangan dengan AV Shunt saat tidur
  • Tidak melakukan aktifitas beban berat dengan lengan AV Shunt (tidak lebih dari 10 lbs)
  • Jangan memakai jam tangan, gelang atau baju ketat di atas AV Shunt
  • Menghindari membawa tas pada lengan dengan AV Shunt

Segera hubungi dokter jika:

  • Ada pendarahan dari AV Shunt
  • Ada tanda-tanda infeksi, atau adanya perubahan penampilan pada kulit, seperti pembengkakan, kulit merah, nanah atau jika kulit di sekitar AV Shunt terasa hangat saat disentuh
  • Ada yang menonjol di atas AV Shunt atau di tangan Anda
  • Mengalami demam di atas 100,5ºF (38ºC), atau menggigil
  • Denyut nadi (getaran) pada AV Shunt lebih lambat dari biasanya, atau tidak dapat merasakan denyut nadi
  • Tangan atau kaki mati rasa, dingin jika disentuh atau lemah
  • Ada bengkak pada lengan, kaki, wajah atau leher
  • Bulu yang membesar muncul di lengan atas atau dada
  • Ada peningkatan tekanan vena selama dialisis atau penurunan aliran darah melalui AV Shunt
  • Ada perdarahan berkepanjangan setelah dikeluarkannya jarum dialisis
  • Ada perubahan dalam hasil lab rutin

Cara mempercepat penyembuhan pada pembuluh darah yang pecah antara lain:

  1. Kompres hangat pada area sekitar tempat tusukan jarum
  2. Jaga tempat bekas suntikan tetap besih dan tidak infeksi
  3. Makan makanan yang tinggi protein namun dengan catatan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan ahli gizi

 

 

 


Hemodialisis dan akses vaskular





                          Akses CDL                                                      Akses cimino



Ketika ginjal gagal berfungsi, tubuh tidak akan mampu mengeluarkan zat-zat dan cairan dari tubuh yang seharusnya dibuang melalui ginjal. Pada saat itulah diperlukan suatu alat yang mampu menggantikan kerja ginjal. Alat inilah yang disebut mesin dialiser.

Proses cuci darah dalam dialiser inilah yang disebut hemodialisis. Untuk membawa darah dalam jumlah besar ke dalam mesin dialiser diperlukan pembuluh darah yang besar dengan aliran yang cukup kuat. Setelah dicuci dalam mesin ini, selanjutnya darah akan dikembalikan ke dalam tubuh melalui akses vaskuler

Akses vaskular inilah yang selama ini  jarang mendapat perhatian. Padahal saluran darah buatan ini juga sama pentingnya dengan mesin dialiser yang digunakan. 

Akses vaskular untuk hemodialisis sendiri ada beberapa jenis yaitu kateter vena,  AV graft dan AV Fistula/ Cimino. Apa pun jenis kateter yang dipilih baik pemasangan dan perawatan akses vaskular perlu sangat diperhatikan. Sebab jika akses vaskular tidak terjaga kebersihannya bisa menyebabkan infeksi akibat masuknya bakteri ke dalam tubuh melalui jalan tersebut.

Akses CDL itu bukan yang terbaik. Dan tidak bertahan lama serta banyak komplikasinya, seperti infeksi, demam dan bekuan darah. Yang terbaik dan aman bagi pasien tetap menggunakan AV Fistula/Cemino. Ini sangat kecil komplikasinya. Biasanya perlu waktu matang 6 sampai 12 minggu akses Cimino tersebut baru bisa digunakan untuk mengalirkan darah ke mesin

Edukasi mengenai pentingnya menjaga akses vaskular pada pada pasien tidak hanya diberikan bagi penderita gagal ginjal tapi juga bagi keluarga pasien yang tinggal serumah dengan pasien.

 






Kamis, 18 Mei 2023


HEMODIALISIS



HEMODIALISIS berasal dari kata “hemo” artinya darah, dan “dialisis ” artinya pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis menggunakan ginjal buatan berupa mesin dialisis. Hemodialisis dikenal secara umum dengan istilah CUCI DARAH

Cara kerja:

Pada hemodialisis darah dikeluarkan dari tubuh pasien dan diedarkan dalam sebuah mesin di luar tubuh, sehingga cara ini memerlukan jalan keluar-masuk aliran darah. Untuk itu dibuat jalur buatan di antara pembuluh arteri dan vena atau disebut fistula arteriovenosa melalui pembedahan. Lalu dengan selang darah dari fistula, darah dialirkan dan di pompa ke dalam mesin dialisis. Untuk mencegah pembekuan darah selama proses pencucian, maka diberikan obat antikoagulan/ anti beku yaitu Heparin.

Sebenarnya proses pencucian darah dilakukan oleh tabung di luar mesin yang bernama Dializer. Di dalam dialiser, terjadi proses pencucian, mirip dengan yang berlangsung di dalam ginjal. Pada dialiser terdapat dua kompartemen serta sebuah selaput di tengahnya. Mesin digunakan sebagai pencatat dan pengontrol aliran darah suhu dan tekanan

Aliran darah masuk ke salah satu kompartemen dialiser. Pada kompartemen lainnya dialirkan dialisat, yaitu suatu cairan yang memiliki komposisi kiia menyerupai cairan tubuh normal. Kedua kompartemen dipisahkan oleh selaput semipermeabel yang mencegah dialisat mengalir secara berlawanan arah. Zat-zat sampah, zat racun, dan air yang ada dalam darah dapat berpindah melalui selaput semipermeabel menuju dialisat. Itu karena, selama penyaringan darah, terjadi peristiwa difusi dan ultrafiltrasi. Ukuran molekul sel-sel dan protein darah lebih besar dari zat sampah dan racun, sehingga tidak ikut menembus selaput semipermeabel. Darah yang telah tersaring menjadi bersih dan dikembalikan ke dalam tubuh penderita. Dialisat yang menjadi kotor karena mengandung zat racun dan sampah, lalu dialirkan keluar ke penampungan dialisat.

Difusi adalah peristiwa berpindahnya suatu zat dalam campuran, dari bagian pekat ke bagian yang lebih encer. Difusi dapat terjadi bila ada perbedaan kadar zat terlarut dalam darah dan dalam dialisat. Dialisat berisi komponen seperti larutan garam dan glukosa yang dibutuhkan tubuh. Jika tubuh kekurangan zat tersebut saat proses hemodialisis, maka difusi zat-zat tersebut akan terjadi dari dialisat ke darah.

Ultrafiltrasi merupakan proses berpindahnya air dan zat terlarut karena perbedaan tekanan hiidrostatis dalam darah dan dialisat. Tekanan darah yang lebih tinggi dari dialisat memaksa air melewati selaput semipermeabel. Air mempunyai molekul sangat kecil sehingga pergerakan air melewati selaput diikuti juga oleh zat sampah dengan molekul kecil.

Kedua peristiwa tersebut terjadi secara bersamaan. Setelah proses penyaringan dalam dialiser selesai, maka akan didapatkan darah yang bersih. Darah itu kemudian akan dialirkan kembali ke dalam tubuh.

Rata-rata tiap orang memerlukan waktu 9 hingga 12 jam dalam seminggu untuk menyaring seluruh darah dalam tubuh. Tapi biasanya akan dibagi menjadi tiga kali pertemuan selama seminggu, jadi 3 - 5 jam tiap penyaringan. Tapi hal ini tergantung juga pada tingkat kerusakan ginjal atau kategori jenis gagal ginjalnya yaitu kronis maupun akut.


Refrensi 

National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse guidance Kidney Failure: Choosing a Treatment That's Right for You Diarsipkan 2010-09-16 di Wayback Machine.

PERAWATAN CATHETER DOUBLE LUMEN (CDL)   Akses vaskuler ada bermacam-macam seperti catheter double lumen (CDL), arteriovenous fistula ...